Kisah Imam Hembuskan Nafas Terakhir Ketika Sujud dan Mengeluarkan Bau Yg Buatkan Semua Makmum Terkejut

Jamhuri, Imam Masjid Baitut Tharah menghembus nafas ketika mengimamkan solat jumaat di Samarinda,kaltim.

Menggalnya imam yang sangat di hormati dan juga di segani ini turut menjadi perhatian media indonesia, kerana j@sadnya menebarkan haruman semerbak wangi yang tidak pernah tercium sebelumnya.

Arwh meniinggal dalam sujud rakaat pertama, setelah beberapa lama tidak bangun, akhirnya beliau digantikan dengan imam kedua.

Menurut saksi Arwh Jamhuri membacakan Ayat dari suroh Al’Ala yang bermaksut :

“Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi.Yang menciptakan dan menyempurnakan. Dan yang menentukan dan menunjukkan. Dan kami mudahkan bagimu jalan yang mudah.

Sungguh beruntung orang yang membersihkan diri. Dan ia ingat nama Tuhannya lalu bersembahyang. Namun, kamu mengutamakan dunia. Padahal akhirat itu lebih baik dan kekal”

Pardiansyah yang saat itu sedang berada tepat di belakang Jamhuri maju menggantikan sebagai imam. Salat dilanjutkan. Jamhuri tak jua kunjung bangun dari sujudnya hingga salam.

Setelah solat selesai jemaah lain cuba membangunkan imam Jamhuri namun beliau sudah pun meniiinggal dunia.

Seketika itu juga Jnzah di angkat ke rumah beliau yang tidak jauh dari masjid,di akui Arwh tidak terlihat sakit. Bahkan sebelum solat jumat salah seorang jemaah zaini masih sempat berbual dengan arwh yang merupakan orang pertama datang kemasjid itu.

Jam 11 dia sudah datang,lama kami berborak,arwh khusuk berborak tentang anak anak dia,tidak seperti nampak sakit,tapi saat sujud pertama lirih pelan suara takbir “ALLAHUAKBAR” jelas terdengar di pembesar suara, katanya.

Menurut warga setempat arwh yang memiliki enam cucu itu dikenali sebagai seorang yang sangat baik,beliau adalah tertua di kampung itu dan akan hadir di setiap waktu solat di masjid itu.

Sementara Mahmudah, anak bungsu yang menjaga Jamhuri. berkata, abahnya yang lahir pada 17 Agustus 1946 itu dikenal keluarga sebagai orang yang taat dan boleh dikatakan tidak pernah ponteng solat berjamaah.

Meskipun kadang kesihatannya kurang baik,abah akan tetap beribadah kemasjid,katanya.

Mahmudah Juga berkata bahwa abah mereka tidak pernah menuntut sembarang pelajaran baik buruk waktu mereka sekolah, kecuali solat lima waktu. Menjadikan anak sebagai kawan, pendapat anak didengar, bila tidak sesuai dengan ajaran islam kami ditegur dengan tegas namun tidak kasar.

“Selalu memanjakan kami. Meskipun kami sudah berkeluarga, apapun yang kami inginkan selalu dipenuhi,” ujar Mahmudah. Kerapatan berkeluarga tersebut tidak membuat anaknya melihat tanda tanda bahwa aj@l abahnya itu sudah dekat.

Namun pada dua hari sebelum arwh meninggal,anaknya itu mecium bau yang wangi diketahui arwh tidak pernah memakai minyak wangi.sampai saya tegur,namun abah hanya senyum,sambungnya.

Sementara Rukiyah isteri arwh terlihat tampak tegar. Hanya dia satu-satunya yang tidak meneteskan air mata melihat suaminya meniinggalkan dirinya lebih dulu.Hanya sesekali matanya menatap jnzah yang tertutup kain terbaring di depannya.

“Ya, karena sudah waktunya. Dia juga sudah kembali kepada Allah, jadi kita ikhlaskan saja. Saya hanya bisa mendoakan semoga amal ibadahnya diterima. Dan kami yang ditinggalkan mendapat ketabahan,” Katanya

Sejak tahun 1984, mereka sudah menetap di Loa Janan. Suaminya selama tinggal sudah dikenal sebagai tokoh agama di daerah tersebut.

Jamhuri merupakan anak tunggal perantau asal Martapura, Banjarmasin. Sebelum menetap bersama istri di Loa Janan, arwh belajar di Pesantren Darussalam, Martapura.

Sumber: nabilahumaira.com via klviral